Selasa, 06 April 2021

Sehabis Pandemi, Kelas Harus Berubah

Oleh Ichsan Hidajat

 

 


Saat ini, kita semua sudah kenyang membaca potongan-potongan berita tentang bagaimana Covid-19 menyingkap rekah dalam sistem pendidikan kita, bahwa sekolah mulai mengubah persepsi dengan menata ulang pembelajaran dan menetapkan penilaian berdasarkan dukungan keluarga dan sumber daya teknologi, dan bagaimana ketaksamaan status sosial memberi ciri dalam penampilan belajar siswa.

Kini kabar pembukaan kelas mulai berdengung. Dan sekonyong-konyong saya ingin bertanya: Apa yang bakal kita lakukan tatkala pembelajaran di kelas tradisional dilanjutkan? Adakah hikmah yang dapat kita pungut dari pengalaman pandemi dan mengadopsinya ke dalam situasi pembelajaran?

Selama BDR (belajar dari rumah) kebutuhan akan akses broadband dan dukungan keluarga di rumah merupakan isu yang penting untuk ditangani. Sayangnya, kedua hal tersebut tidak dapat dikelola secara langsung oleh guru kelas. Kita menyadari bahwa selama kelas ditutup, guru perlu lebih luwes dalam standar penilaian maupun pendekatan pembelajaran. Guru juga dituntut untuk mahir menetapkan prioritas materi yang akan dipajankan. Akan tetapi kita juga tahu bahwa realitas pembelajaran dan penilaian akan kembali seperti sediakala begitu kelas dimulai kembali. Tanpa perjalanan pulang pergi dari rumah ke sekolah atau kesibukan kegiatan ekstrakurikuler, saat ini guru memiliki waktu leluasa untuk lebih memerhatikan satu persatu siswa, namun saya khawatir kerepotan manajemen kelas akan memupuskan kebiasaan baru yang baik ini.

Berikut ini saya mendaftar beberapa hal yang perlu guru rencanakan ketika pembelajaran kembali normal:

Tetap gunakan teknologi daring untuk menyampaikan tugas, catatan, atau berbagi sumber belajar. Jutaan siswa masuk ke Google Classroom (atau platform pengelolaan kelas lainnya) untuk pertama kalinya pada pertengahan Maret 2020. Dalam beberapa hari mereka diharapkan menjadi ahli dalam pembelajaran berbasis Google itu. Hal yang tidak mudah. Demikian pula, sebagian guru menghadapi kendala yang sama meski tidak separah itu. Sebagian guru lainnya telah memanfaatkan sistem pembelajaran digital bertahun sebelumnya. Pada prinsipnya, mengintegrasikan sumber belajar daring itu mudah, karena siswanya telah memiliki Chromebook selama setahun lebih, tetapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah siswa tahu cara menggunakan smartphone dan aplikasi tertentu, tetapi tidak begitu paham dalam hal teknologi berbasis web.

Pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara terbatas, sehingga sekolah akan mengatur suatu pembelajaran campuran (jarak jauh dan tatap muka). Masa-masa transisi ini dapat dimanfaatkan untuk meneguhkan kemampuan siswa mengelola pembelajaran berbasis jaringan. Keandalan siswa dalam mengelola platform pembelajaran daring akan mengantarkan mereka pada kemandirian belajar – menemukan pola baru belajar yang tidak melulu mengandalkan kehadiran guru, kemudian kelak hal ini akan menjadi bekal bagi keberhasilan belajarnya di sekolah lanjutan dan perguruan tinggi.

 Berhenti menilai tugas individu hanya untuk mengisi buku nilai. Dalam situasi BDR, sistem pendukung mereka - yaitu peran keluarga - menjadi jauh lebih penting dari sebelumnya. Dengan pemikiran tersebut, sekolah harus mengubah kerangka penilaian pembelajaran, meminta guru agar mengutamakan pemberian umpan balik dan kesempatan untuk mengoreksi pekerjaan, alih-alih pemberian skor.

Selama pandemi siswa lebih termotivasi untuk memperbaiki tugas mereka, mencoba lagi, dan mengirim ulang. Hail ini harus didukung oleh guru dengan tidak tergesa memberi nilai dan sebaliknya memberikan umpan balik. Apakah ini berarti tidak ada nilai atau setiap siswa mendapat nilai “Amat Baik!”? Tidak, tentu saja tidak. Selama kelas ditutup guru mulai menyadari bahwa kualitas jawaban tugas itu lebih penting, dan bukan banyaknya jumlah pertanyaan. Tugas yang lebih sedikit dengan umpan balik yang lebih mendetail dapat membantu siswa tetap termotivasi, untuk kemudian memahami materi dengan lebih menyeluruh. Guru, di lain pihak, juga merasakan berkurangnya beban dan tekanan. Meskipun makan banyak waktu, menuliskan umpan balik terasa jauh lebih menyenangkan dan melegakan daripada menandai benar salah pada kertas tugas siswa.

Lebih dari itu, pemberian penghargaan dan umpan balik yang membuka peluang bagi orang tua untuk turut berkontribusi tentu akan lebih bermakna bagi keberhasilan belajar siswa.

Tetapkan tes kinerja dan proyek rumahan. Dengan tiadanya kelas tatap muka, guru seni sudah mulai memberikan tugas proyek video. Siswa membuat koreografi tarian, adegan skrip, atau berlatih memainkan instrumen musik kemudian merekam dan mengunggahnya. Siswa juga dapat diminta memeragakan gerakan senam tertentu – berdasarkan video contoh dari gurunya. Hal ini tidak hanya memungkinkan siswa untuk mendapatkan umpan balik secara personal tanpa khawatir ditertawakan oleh rekan-rekan mereka, tetapi juga mengajarkan mereka cara menggunakan platform yang perlu mereka kenal untuk seleksi masuk ke sekolah lanjutan atau perguruan tinggi. Apabila diperhatikan dengan jeli, guru akan menemukan bahwa kiriman video siswa telah menunjukkan kreativitas yang mengesankan. Kreativitas itu tidak mungkin dapat terwujud dalam batasan dinding-dinding kelas.

Kemudahan siswa dalam menemukan sumber belajar di situs-situs internet juga akan membuka peluang bagi guru untuk memberikan tagihan soal yang menuntut jawaban uraian, alih-alih pilihan ganda atau jawaban singkat.

Bawa profesional lain ke dalam lingkaran kelas. Berhentilah menjadi satu-satunya narasumber di kelas. Bayangkan antusiasnya siswa bila guru membawa profesional di luar pendidik ke dalam kelas. Guru drama bisa mengajak aktor dan sutradara profesional. Mereka sangat senang merekam video untuk siswa. Para penulis dapat membuat kunjungan sekolah virtual setiap saat. Demikian juga dokter atau praktisi kesehatan lain. Para profesional ini tidak selalu tersedia secara gratis, tetapi wawasan mereka sangat berharga bagi siswa. Para profesional kreatif dapat mengajari siswa seperti apa realitas dalam bidang mereka, di samping berkah ilmu dan pengalaman segar dari tangan pertama

Buat jadwal yang lebih fleksibel. Sekolah perlu mengatur jadwal pembelajaran daring yang lebih fleksibel dengan memberi kesempatan siswa mengasah keterampilan manajemen waktu pribadi mereka. Percayalah, ini akan menjadi bekal keberhasilan mereka di masa yang akan datang.

Anak-anak yang berkembang dalam lingkungan kelas yang dikontrol dengan ketat akan menghadapi kesulitan karena mereka tidak pernah belajar bagaimana mengatur waktu mereka sendiri. Siswa yang biasanya merasa tertahan di kelas yang sangat terstruktur akan merasa senang karena mereka sekarang dapat mengendalikan bagaimana dan kapan mereka menyelesaikan pekerjaan mereka. Selama ini metode manajemen waktu mengajar guru bercirikan jadwal yang ketat dan tenggat waktu yang kaku. Saya sarankan agar guru melibatkan siswa dalam menentukan jadwal belajar daring, mendiskusikannya dengan wali kelas serta membuat komitmen.. Dengan sedikit bimbingan, siswa akan dapat membuat linimasa sendiri dan mengelola beban kerja mereka sendiri.

Paksa siswa untuk menggunakan teknologi "jadul ". Akui saja, siswa mengenal seluk-beluk smartphone dan aplikasi tertentu, tetapi mereka tidak begitu paham dalam hal teknologi berbasis web. Mereka dapat mengirim pesan teks via Whatsapp tetapi tidak dapat mengirim email secara profesional. Mereka membuat video TikTok yang mengagumkan, tetapi tidak tahu di mana dokumen Word tersimpan secara otomatis. Mereka terbiasa merespon soal dalam format googleform namun asing dengan dokumen Excel. Lingkungan kerja tidak akan berkembang secepat revolusi teknologi. Anak-anak yang berencana memasuki dunia kerja dalam dekade mendatang tetap perlu mengetahui cara menggunakan Microsoft Office, memasukkan email dengan benar, dan memanfaatkan teknologi untuk mengelola alur kerja mereka.

Sekolah dapat berperan mengenalkan “dagingnya” teknologi daring agar siswa tidak hanya mahir pada ranah kulit luarnya saja.

Yang saya anggap paling esensial adalah mengubah pola hubungan antara sekolah dan orang tua siswa. Sekolah telah membuat komitmen dengan orang tua siswa bahwa kegiatan belajar siswa telah menjelma bentuk baru, yaitu siswa belajar di rumah. Peran keluarga dalam pendampingan siswa belajar menjadi faktor utama keberhasilan. Selanjutnya orang tua berkomunikasi dengan sekolah mengenai harapan-harapan, kemajuan belajar, kendala dan kejadian unik yang dialami selama pendampingan di rumah. Hubungan guru-orang tua mencair ke dalam format yang tidak lagi formal. Hal ini perlu dipertahankan dan bahkan diperkuat. Komite sekolah dapat bergandengan tangan dengan sekolah untuk mereka ulang format baru peran orang tua siswa tersebut. Tidak ada lagi pernyataan bahwa keberhasilan belajar anak di sekolah ditentukan 100% oleh guru. Bahkan sesungguhnya, penentu keberhasilan belajar anak adalah keluarga dan orang tua.

Bagaimanapun kelak bentuk ruang kelas ketika COVID-19 berkurang, kelas harus berbeda dari apa yang kita kelola sebelum gedung sekolah ditutup pada Maret 2020. Kelas harus berubah. Pengalaman pandemi tentu saja telah memberi kita cara pandang baru serta piranti untuk melayani siswa dengan lebih baik. Ketika pembelajaran tatap muka segera dimulai, mari pastikan kita membawa semua hikmah berharga itu untuk melangkah menata pendidikan yang semakin baik.


Tegal Loa, 5 April 2021

Sabtu, 20 Maret 2021

Menghapus PR, Menegaskan Kemahahebatan Institusi Sekolah
Oleh Ichsan Hidajat

Selepas asar, berpuluh tahun lalu, saya punya kebiasaan bersepeda menuju rumah seorang sahabat, sekira empat kilometer dari rumah. Di teras berhias bunga-bunga kami berkumpul, biasanya 5 orang. Berbekal buku-buku pelajaran, kami nikmati sore dengan menyelesaikan tugas-tugas dari guru di sekolah. Sebagian cukup dengan membubuhkan isian atau jawaban singkat, ada pula yang memerlukan diskusi antarteman, dan selalu saja ada tugas dari guru IPA, bahasa Indonesia atau mapel lainnya yang menantang kami untuk mencari jawaban dari alam sekeliling. Dari tanaman dan hewan sekitar rumah, dari lukisan sungai dan udara bersihnya. Atau memaksa kami mencari solusi dari buku, koran atau majalah di bawah meja. Atau menodong kakak dan sesekali orang tua untuk bantu menaklukkan soalan. Semuanya kami lakukan dengan keseruan yang membuncah tak terwadahi. Gelak tawa di antara debat sebelum bersua jawaban yang kami sepakati. Atau tidak disepakati. Lalu menyiapkan pertanyaan balik kepada guru sebagai hasil dari eksplorasi kami sekelompok.

Salah satu dari kami pandai menyiapkan tempat, menyediakan suguhan kudapan kampung atau menyulap nasi liwet harum nan hangat. Dalam hal mencari jawaban soal, hmm, dia percayakan saja kepada teman-temannya. Seorang lagi mahir memilih sumber bacaan, mengatur alur diskusi dan merumuskan jawaban terbaik. Saya bagian menuliskannya rapi pada kertas kelompok. Setiap anggota kelompok piawai pada porsinya masing-masing.

Dan sekarang muncul wacana dari Menteri Muhajir tentang penghapusan PR alias pekerjaan rumah. (https://www.google.co.id/amp/s/mojok.co/red/rame/moknyus/mendikbud-berencana-menghapus-pr-sekolah/%3famp.) Sekolah tidak dibolehkan lagi membebani siswanya dengan setumpuk pekerjaan rumah. Semua tugas yang berkaitan dengan pembelajaran hendaknya diselesaikan di sekolah pada jam-jam sekolah. Dengan demikian, usai sekolah siswa dapat menghabiskan waktu sepenuhnya bersama keluarga.

Muncul pertanyaan iseng dari seorang teman: masih adakah waktu dan sisa tenaga guru untuk mendampingi para siswa dalam menyelesaikan semua (*semua!*) tugas-tugas kokurikuler dan ekstrakurikuler? Lalu, – sebaliknya – bagaimana dengan reaksi siswa? Nyamankah mereka bila saat-saat belajar mandiri dan pribadi tetap didampingi oleh guru, dibatasi pagar sekolah dan suasana serbaformal pembelajaran?

Apabila disandingkan dengan Finlandia sebagai negara yang meniadakan pemeringkatan, menghapus ujian nasional dan menghentikan pemberian PR bagi siswa, pertanyaannya adalah bila tanpa PR, sudahkah pembelajaran tuntas di sekolah mewujud? Terlebih lagi penumbuhan karakter kemandirian dalam belajar, penjelajahan dan juga penemuan (_inquiry_) oleh siswa sebagai insan pembelajar dengan memanfaatkan lingkungan sekitar yang cakrawalanya warna-warni tak terbatas.

Jangan-jangan, alih-alih mencapai arasy pembelajaran tuntas, sekolah malah bertransformasi menjadi institusi mahatahu dan mengabaikan kebenaran-kebenaran lain yang meliar di udara terbuka, menunggu untuk direnggut oleh para intelektual muda cerdas dan serbaingintahu, kemudian mengelopak dan menyebarkan wangi pengetahuan segar, alamiah dan orisinal. Jangan-jangan sekolah berubah menjadi makhluk mahahebat sebagai satu-satunya pemilik sumber pengetahuan dan pemonolopi kebenaran keilmuan. Menurut hemat saya, ini adalah titik kritis yang bila tidak dikelola dengan bijak akan menjerumuskan institusi sekolah itu sendiri.

Padahal, lihatlah ke daerah-daerah yang jauh dari ibukota kabupaten, di ketiak bukit atau di sempadan pantai tak terjamah. Keterbatasan fasilitas yang tersedia di sekolah, ketiadaan kekayaan buku perpustakaan dan koneksi internet dan  – malah lebih memilukan lagi – keterbatasan jumlah guru bakal menjadi tantangan bagi penerapan penghapusan PR.

Selebihnya, anak-anak bakal kehilangan serunya belajar kelompok, meriah diskusi penuh canda, mesra debat seraya mengerling teman sekelompok yang sungguh rupawan lagi pandai. Kehilangan semua ritual sore selepas Asar seperti yang kami lahap berpuluh tahun lalu.


ditulis pertama kali pada Juli 2018

Senin, 13 Juli 2020

PROFIL SMP NEGERI 2 JAMPANGKULON




Identitas Sekolah
1.  Nama Sekolah    :  SMP Negeri 2 Jampangkulon
2.  No. Statistik Sekolah / NPSN   : 201020629049 / 20202373
3.  Tipe Sekolah :  B
4.  Alamat Sekolah  :  Jl. Curughilir Desa Mekarjaya
                                 :  Kecamatan Jampangkulon
                                 :  Kabupaten Sukabumi
                                 :  Propinsi Jawa Barat  
5.  Telepon/HP/Fax  :  0266-6492502 
6.  Jarak Sekolah Ke Dinas Kabupaten/Kota  : ± 100 Km
7.  Status Sekolah    :  Negeri
8.  Nilai Akreditasi    :  A   ( 2018 ) 
9Tahun berdiri       :  1997
10.Jumlah Rombel   :  12 Kelas

Identitas Kepala Sekolah
1. Nama & Gelar : Ichsan Hidajat, S.Pd. M.M.
2. Pendidikan Terakhir : S 2
3. Jurusan : Manajeman

SMP Negeri 2 Jampangkulon berdiri pada tanggal 16 Mei 1997. Keberadaan sekolah ini tidak lepas dari tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.  

Perjalanan SMP Negeri 2 Jampangkulon hingga saat ini sudah menempuh waktu 23 tahun. Perjalanan yang penuh perjuangan dengan semangat keteladanan. Sekarang SMP Negeri 2 Jampangkulon telah tumbuh menjadi sekolah besar dan berkembang selaras dengan perkembangan zaman. Perkembangan ini tidak lepas dari kerja keras  para  kepala sekolah  yang memimpin. Kepala sekolah yang memimpin SMP Negeri 2 Jampangkulon di antaranya:
Juaeni Ridwan Efendi, S.Pd  (1997 - 2000)
Endang Kusnaedi, S.Pd. (2000 - 2001)
Tatang Sumarna, M.Pd.  (2001 - 2003)
H. Mamat Rakhmat, S.Pd. (2003 - 2008)
Tony Winartono, S.Pd.   (2008 - 2009)
H. Ade Romli, S.Pd., M. M.  (2009 - 2014)
Wawan Nirwana, S.Pd., M.M. (2014 - 2018)
H. Sobari, S.Pd.I., M.M.Pd.  (2018 - 2019)
Ichsan Hidajat, S.Pd., M.M.  (2019 - sekarang)

Kurikulum yang berlaku di SMP Negeri 2 Jampangkulon adalah kurikulum 2013. Proses pembelajaran dilaksanakan lima hari dalam seminggu atau menggunakan sistem Full Day. Staf pengajar SMP Negeri 2 jampangkulon berjumlah 16 orang dengan kualifikasi S1 dan S2.

Berbekal kepercayaan, kerendahan hati, komitmen, kesungguhan dan kenyakinan untuk berbuat lebih baik di masa akan datang, pada tahun pelajaran 2020/2021. SMP Negeri 2 jampangkulon  membuka Pendaftaran  Peserta Didik Baru untuk dididik menjadi siswa yang berkarakter dan berprestasi sesuai dengan visi dan Misi sekolah sebagai berikut :
Visi
“Terwujudnya  Lulusan yang Berkarakter dan Berprestasi  Berlandaskan Iman dan Taqwa”

Misi:
· Mengembangkan suasana sekolah relijius dengan semangat akhlakul karimah
· Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih,  asri, dan nyaman
· Terciptanya proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan
· Mewujudkan sekolah yang berwawasan kebangsaan dengan menjungjung tinggi kearifan lokal
· Mengembangkan sistem pembelajaran berbasis IT
· Mewujudkan lulusan yang berprestasi dalam bidang akademik dan non akademik

SMP Negeri 2 Jampangkulon  mempunyai Motto  SIP  yaitu  Selalu Intensifkan Pendidikan”
Selalu artinya senantiasa atau selamanya
Intensif artinya berbuat dengan sungguh-sungguh dan terus menerus  dalam mengerjakan sesuatu hingga memperoleh hasil yang optimal.
Pendidikan adalah  proses mengubah sikap  dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia  melalui upaya pengajaran dan latihan`

Jumat, 10 Juli 2020

Istilah-Istilah dalam Kasus COVID-19


Sobat ! Agar kita tidak kelimpungan saat orang sering membicarakan beragam hal tentang Pandemi Covid-19, Yuk, ada baiknya kita mengenal istilah-istilah yang sering dibicarakannya. Istilah-istilah tersebut diantaranya :

No

Istilah

Penjelasan

1

Wabah (outbreak)

Tingkat kejadian penyakit yang lebih tinggi dari normal

2

Endemi

Penyakit yang keberadaannya permanen di sebuah wilayah atau populasi

3

Epidemi

Situasi dimana penyakit menyebar dengan cepat diantara banyak orang, dan dalam konsentrasi yang lebih tinggi dari biasanya

4

Pandemi

Penyakit yang lazim di seluruh negara, benua, atau seluruh dunia. Pandemi adalah epidemi yang telah menyebar di wilayah yang luas

5

Orang Tanpa Gejala (OTG)

Individu yang tidak menunjukkan gejala, namun tetap memiliki risiko tertular dari orang positif COVID-19

6

Orang Sehat dalam Risiko (ODR)

Disebut Orang Sehat Dalam Pemantauan, adalah orang yang saat dan atau dalam 14 hari datang dari negara/wilayah terjangkit dan tidak ada gejala sakit

7

Orang dalam Pemantauan (ODP)

Orang yang memiliki gejala panas badan atau gangguan saluran pernapasan ringan, dan pernah mengunjungi atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan virus corona

8

Probable

Pasien dalam pengawasan yang diperiksakan untuk COVID-19 tetapi inkonklusif atau tidak dapat disimpulkan atau seseorang dengan hasil konfirmasi positif pan-coronavirus atau beta coronavirus

9

Pasien dalam Pengawasan (PDP)

Orang yang memiliki gejala panas badan dan gangguan saluran pernapasan ringan atau berat, serta pernah berkunjung atau tinggal di daerah yang diketahui merupakan daerah penularan COVID-19

 

10

Suspect Corona

Pasien yang diduga kuat terinfeksi COVID-19 dengan ciri-ciri sedang mengalami gejala-gejala dan juga pernah melakukan kontak dengan pasien yang dinyatakan positif terkena COVID-19

11

Pasien Positif

Pasien yang sudah terbukti secara medis terinfeksi SARS-CoV-2 dalam serangkaian uji lab

12

Pasien Negatif

Pasien yang terbukti secara medis tidak memiliki virus SARS-CoV-2 melalui uji lab. Untuk pasien yang sebelumnya positif dan dinyatakan sembuh, biasanya akan dinyatakan negatif setelah melakukan dua kali tes

13

Swab Test atau Uji Swab

Serangkaian pengujian dengan mengambil sampel ludah atau lendir di tenggorokan bagian belakang atau saluran pernapasan bawah untuk mendeteksi ada tidaknya virus corona

14

Rapid Test

Metode uji cepat untuk melacak seseorang terinfeksi COVID-19 menggunakan teknologi yang mampu memberikan hasil hanya dalam waktu 30 menit serta tidak memerlukan instrumen yang rumit

15

Screening

Mengidentifikasi orang yang mungkin telah melakukan kontak dengan orang yang terinfeksi virus untuk melihat apakah seseorang terjangkit virus itu, sering dengan mengukur suhu tubuh mereka

16

Spesimen

Sampel dari seseorang yang diambil untuk mengetes ada tidaknya virus corona di dalamnya

17

Viral Load

Jumlah virus dalam sampel, terutama darah seseorang atau cairan tubuh lainnya yang biasanya diukur untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi atau tidak

18

Droplet

Tetesan atau cipratan yang dihasilkan oleh bersin, batuk maupun saat berbicara

19

Inkubasi

Waktu yang diperlukan untuk gejala muncul setelah seseorang terinfeksi

20

Lockdown

Sebuah wilayah/daerah/negara yang melakukan pengawasan ketat di semua area, mengunci masuk atau keluar dari suatu area untuk mencegah penularan virus corona penyebab COVID-19

21

Social Distancing

Cara atau imbuan yang dilakukan kepada masyarakat untuk menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang

22

Physical Distancing

Kebijakan menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit tidak menyebar

23

Isolasi

Menjauhkan orang-orang yang terinfeksi penyakit menular dari mereka yang tidak terinfeksi

24

Karantina

Orang yang tetap tinggal di rumah sehingga seseorang yang mungkin terpapar tidak menularkan penyakit kepada orang lain

25

Karantina mandiri

Aktivitas yang menunjukkan bahwa seseorang secara sukarela mengurung diri mereka sendiri dengan tinggal di rumah agar dapat mencegah penyebaran penyakit

26

Work From Home (WFH)

Kebijakan yang diciptakan oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus corona dengan cara melakukan aktivitas bekerja dari rumah masing-masing

27

#Dirumahaja

Gerakan untuk masyarakat Indonesia agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah jika tidak diperlukan dan menghindari membuat kerumunan

28

Antiseptik

Zat yang dapat menghentikan atau memperlambat pertumbuhan mikroorganisme

29

Hand sanitizer

Cairan pembersih yang digunakan seseorang untuk membersihkan virus dari tangannya untuk mengurangi risiko penularan virus

30

Cairan disinfektan

Zat kimia yang digunakan untuk membersihkan dan membunuh kuman pada benda tak hidup yang umumnya digunakan untuk mensterilkan benda-benda dari pertumbuhan kuman dan bakteri

31

Imun

Bentuk perlindungan diri pada tubuh yang memungkinkan seseorang tidak mudah terserang suatu penyakit tertentu

32

Herd immunity

Kekebalan kelompok dengan cara pemberian vaksin secara meluas atau bila sudah terbentuk kekebalan alami pada sebagian besar orang dalam suatu kelompok setelah mereka terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut

33

Local Transmission

Penularan virus corona yang terjadi secara lokal atau di lokasi tempat pasien positif COVID-19 berada saat ini, misalnya seseorang yang terinfeksi atau tertular virus corona saat ia berada di Indonesia, tetapi ia juga tidak pernah memiliki riwayat perjalanan keluar negeri

34

Imported Case

Kasus COVID-19 yang menimpa seseorang yang baru kembali dari luar negeri, tanpa terkait dengan kluster manapun

35

Kejadian Luar Biasa (KLB)

Salah satu status yang diterapkan di Indonesia untuk mengklasifikasikan peristiwa pernyakit COVID-19 yang merebak dan dapat berkembang menjadi wabah penyakit

 

36

Flattening the Curve (Pelandaian Kurva)

Upaya memperlambat penyebaran COVID-19, sehingga fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang memadai bagi para penderita yang dapat dilakukan dengan social distancing, karantina, dan isolasi

37

Zona Hijau

Negara atau wilayah tanpa kasus yang dikonfirmasi, atau tanpa ada pelancong yang terinfeksi yang datang dari negara/wilayah lain

38

Zona Kuning

Negara atau daerah dengan beberapa kasus penularan lokal, tetapi tanpa kelompok penularan komunitas

39

Zona Oranye

Negara atau wilayah dengan penyebaran kasus dalam status parah dan berdekatan dengan zona merah atau dengan kelompok kecil

40

Zona Merah

Negara atau wilayah yang telah mempertahankan transmisi komunitas dengan pandemi yang sudah tidak terkendali

41

Alat Pelindung Diri  (APD)

Alat-alat atau perlengkapan yang wajib digunakan untuk melindungi dan menjaga keselamatan pekerja saat melakukan pekerjaan yang memiliki potensi bahaya terhadap COVID-19

42

Hazmat Suit (Hazardous Materials Suit)

Hazmat suit dikenal sebagai setelan dekontaminasi, yaitu pakaian yang digunakan oleh tenaga medis untuk menghindari paparan virus SARS-CoV-2 atau media berbahaya


Nah itulah kiranya beberapa istilah yang sering muncul pada masa pandemi Covid-19 ini. Semoga dapat menambah wawasan sobat semua yah. Tetap semangat dan jaga kesehatan !

Sumber : 
Panduan Pelaksanaan MPLS Ditengah Pandemi Covid-19 Di Kabupaten Sukabumi


Ulangan Informatika Bab 2

Kliklah Link di bawah ini : STRUKTUR DATA :  SOAL ULANGAN BAB 2